Selamat Datang di Blog Paroki Lubang Buaya Gereja Kalvari dan Gereja Sta. Catharina - Jakarta Timur
Dekanat Bekasi - Keuskupan Agung Jakarta

08 Februari 2017

Sosialisasi APP Komsos KAJ dan Gerakan Anti-Hoax

Perayaan Natal belum lama berlalu, tetapi masa Prapaskah sudah di depan mata. Sejak bulan Januari ini, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) sudah menyiapkan sejumlah “amunisi” untuk menyosialisasikan tema dan gerakan APP (Aksi Puasa Pembangunan) tahun ini. Selain buku kecil renungan harian dan buku panduan pertemuan lingkungan, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) KAJ juga menjadwalkan sosialisasi APP kepada dekenat-dekenat dan seksi-seksi se-KAJ, termasuk Seksi Komsos.


Pada APP tahun ini, untuk pertama kalinya Seksi Komsos dilibatkan dalam sosialisasi APP. Tujuannya, agar Seksi Komsos paroki terlibat dalam upaya mendokumentasikan kegiatan Aksi Nyata Prapaskah (ANP) yang dilakukan paroki-paroki dan lingkungan-lingkungan, membuat dokumentasi film yang layak tayang dan layak tonton, dan memiliki daya gugah untuk membangkitkan semangat berbagi. Film tersebut perlu menampilkan proses perencanaan dan survei dari pihak paroki, serta kesaksian dari umat yang dibantu, sehingga dapat ditangkap jelas: “melalui bantuan yang diberikan Gereja, umat merasakan kasih Tuhan”.

“Komsos jangan hanya jadi penikmat kegiatan-kegiatan di paroki, tetapi juga harus menyajikan atau membagikannya kepada umat; menjadi agen kerahiman yang mampu menggerakkan orang lain untuk juga mau berbuat bagi mereka yang membutuhkan, dan mampu menjadikan orang lain sebagai agen kerahiman juga.” Demikian pesan utama yang disampaikan Romo Justinus Sigit Prasadja, SJ, Ketua Komisi PSE KAJ, kepada para penggiat Seksi Komsos se-KAJ, dalam pertemuan di Gedung Karya Sosial – Lembaga Daya Dharma (LDD), Aula Ignatius Lantai 3, Katedral, Jakarta Pusat, pada Sabtu (21/1).

Lebih lanjut, Romo Sigit menjelaskan apa makna kata “adil”, “beradab”, “makin adil dan makin beradab”, dan gerakan-gerakan apa yang direncanakan KAJ dalam menghidupkan semangat Pastoral Evangelisasi KAJ 2017 yang juga menjadi tema APP KAJ 2017, yaitu “Amalkan Pancasila: Makin Adil, Makin Beradab”, yang sejalan dengan sila ke-2 Pancasila: “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. 


Kita semua, ujar Romo Sigit, diajak menjadi orang yang mengharapkan hidup dalam situasi adil dan turut menghadirkan keadilan itu, terutama bagi yang lemah, yang mengalami diskriminasi, cacat, miskin, dan tersingkir. Kita juga diajak makin beradab, dengan berbudi pekerti yang baik, sopan, halus budi, memegang teguh ajaran moralitas, dan makin menghargai martabat manusia.


Bagi PSE, gerakan nyata yang harus diambil ketika melihat ketimpangan sosial adalah “membantu mereka”, sedangkan bagi Komsos berarti “menyerap, mengolah, dan menyuarakan berbagai ketimpangan itu lewat media-media liputan, entah lewat tulisan, foto, maupun video,” ujar Romo Sigit. “Komsos adalah mata dan telinga gereja. Maka, selain meliput kegiatan dan menyajikannya ke luar, diharapkan lewat tayangan-tayangan itu Komsos juga mampu membuat umat tersentuh dan tergerak untuk mewujudkan masyarakat yang makin adil dan makin beradab.”


Sebelumnya, Romo Harry Sulistyo, Pr., Ketua Komisi Komsos KAJ, membuka pertemuan dengan menerangkan makna simbol-simbol yang ada dalam logo tersebut dan kaitannya dengan sila ke-2 Pancasila. Melihat situasi bangsa dan negara kita saat ini, beliau mengatakan, “Gereja Katolik benar-benar mendapat Roh Kudus ketika menetapkan ‘Amalkan Pancasila’ sebagai tema besar Ardas 2016–2020. Padahal, tahun lalu, saat Ardas tersebut diluncurkan, situasinya belum sekacau sekarang.” 


Sayangnya, imbuh beliau, kita belum berhasil mengampanyekan “Kerahiman Allah yang Memerdekakan” tahun lalu, sehingga orang di luar masih gagal paham tentang siapa Allah kita, sampai-sampai ada yang mencetuskan pertanyaan: “Kalau Tuhan Yesus dilahirkan, bidannya siapa?”


Gerakan Anti-Hoax


Pada kesempatan ini, dihadirkan pula narasumber dari “Gerakan Masyarakat Indonesia Anti-Hoax” yang diwakili oleh Humas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Catharina Widyasrini, yang juga adalah umat Paroki Santa Maria Regina, Bintaro. Wanita yang akrab dipanggil Bu Rini ini hadir bersama artis Olga Lydia, sebagai Duta Anti-Hoax. Mereka menyosialisasikan gerakan yang dideklarasikan tanggal 8 Januari 2017 di area Car Free Day, Thamrin, itu sebagai gerakan perlawanan masyarakat terhadap maraknya fitnah dan hasutan, serta berita-berita bohong di media sosial dan internet.


“Latar belakang pendirian gerakan ini adalah keprihatinan akan rendahnya literasi digital masyarakat, sehingga penyebaran hoax-informasi yang direkayasa untuk menutupi kebenarannya, seakan tak terkendali,” tuturnya. “Hoax sangat berbahaya karena dapat berisi pembunuhan karakter, penipuan, menyebarkan perselisihan, menimbulkan kekacauan dan kerusuhan, bahkan mengancam NKRI dan dapat menyebabkan perang.”
Maka, selain bertujuan menahan laju penyebaran berita hoax yang dapat mengancam kerukunan masyarakat dan bangsa, Mafindo juga ingin mengajak masyarakat agar cerdas bermedsos dan sama-sama turut membersihkan hoax dengan meluruskan/mengklarifikasi, tidak ikut menyebarkan (“tahan jempol!”), dan aktif melaporkan informasi yang berindikasi hoax. “Kalau bicara ‘kasih’ mungkin terlalu tinggi. Kita levelnya ‘kejujuran’ dulu, deh, dengan jangan menjadi pelaku ketidakbenaran,” ujarnya.


Melalui situs dan aplikasi, seperti Grup FB (Facebook) FORUM ANTI FITNAH, HASUT, DAN HOAX (FAFHH), situs TURN BACK HOAX (http://turnbackhoax.id—ada aplikasi mobile-nya juga), http://indonesianhoaxes.blogspot.co.id, dan CYBER CRIME POLRI (www.polri.org), netizen dapat menyampaikan berita, informasi, ataupun meme yang isinya (terindikasi) hoax. Masyarakat juga dapat mencari penjelasan atau bukti apakah suatu informasi merupakan hoax atau bukan.


Rini menyampaikan pula bahwa gerakan ini sudah tersebar di hampir semua kota besar di Indonesia. Mereka mengumpulkan dana secara saweran di antara para aktivis dan menjual kaus bertuliskan “Turn Back Hoax”. Ia mengharapkan, Komsos se-KAJ juga turut mengampanyekan atau bahkan membuat gerakan anti-hoax di gereja-gereja.
Olga Lydia selaku Duta Anti-Hoax berpesan agar sebelum kita mengeklik tombol “kirim” atau “sebarkan” di HP sebaiknya tahan diri dan cek dulu berulang kali sampai kita yakin kebenarannya, walaupun informasi tersebut membuat kita jengkel. Terhadap pernyataan atau tanggapan yang tendensius dan bikin “gerah” dari teman satu grup di medsos, ia memberi tips, counter-lah dengan tanggapan yang menyejukkan, atau yang cerdas dan kritis tapi lucu, sehingga mampu menetralkan situasi.


Program Komsos 2017

Pada akhir acara, Romo Harry kembali mengajak Seksi Komsos untuk tidak hanya melakukan publikasi di intern paroki, tetapi juga punya misi ke luar, supaya orang tidak gagal paham tentang iman kita dan kita dapat sungguh berkontribusi pada bangsa kita.
Dalam rangka APP 2017, ada beberapa program yang ditawarkan untuk diikuti Komsos—juga semua umat paroki, di antaranya: Lomba Dokumentasi APP Paroki, bisa berupa foto ataupun berita di media-media paroki; lomba membuat film reality, bekerja sama dengan PSE dan pastor paroki, misalnya kegiatan bedah rumah. Pengumumannya akan diadakan pada acara “Malam Penghargaan INMI Awards”, 27 Mei 2017 (Minggu VII Paskah) bersamaan dengan Hari Komunikasi Sosial Sedunia.

Di luar itu, dekenat-dekenat juga akan mengadakan berbagai aktivitas berkenaan dengan Hari Down Syndrome, Hari Pancasila, Hari Proklamasi, dan Hari Pahlawan.
Tahun depan, Komsos Paroki juga diharapkan membuat video-video pendek sebagai pelengkap bahan pertemuan APP di lingkungan-lingkungan (4x pertemuan). “Kalau biasanya yang membuat adalah KAJ, mulai tahun depan dibuat oleh masing-masing Komsos Paroki,” kata beliau. Format isinya adalah: 1) pengantar dari romo; 2) ilustrasi renungan berupa film pendek yang sederhana dan menyentuh; 3) renungan/kesimpulan penutup dari romo.


Menyemarakkan era digital, Romo Harry juga menginformasikan bahwa mulai 1 Februari 2017, HIDUP TV akan mulai bersiaran lewat TV satelit, free on air, dan streaming. Siaran ini bisa diakses dengan parabola. Acaranya, antara lain: renungan Oase Rohani Katolik (ORK) setiap pukul 05.00, yang akan dibuat visualnya (sebelumnya hanya audio, disiarkan di Radio Cakrawala dan KAJ Radioline), kemudian pukul 06.00 siaran langsung misa pagi dari Katedral (selanjutnya bisa bergiliran dari gereja-gereja lain). KAJ juga mengeluarkan Kartu HIDUP (Sim card HP dengan fasilitas antara lain gratis telepon dan SMS ke sesama pengguna kartu) dan kartu kredit Mandiri Visa KAJ (setiap 1% dari transaksi akan disalurkan KAJ kepada yang membutuhkan).

Demikian “bekal” yang diterima para Komsosers dalam pertemuan di KAJ tanggal 21 Januari lalu. Semoga bermanfaat.